Biografi KH. Sofyan Tsauri Ma’mun (Alm.)
Profil Singkat
KH. Sofyan Tsauri Ma’mun (Alm.) adalah seorang ulama asal Gobras, Cibeureum, Kota Tasikmalaya. Beliau lahir pada tahun 1950, sebagai putra dari KH. Ma’mun—pendiri Pondok Pesantren Sumur Caringin Al-Ma’muniyyah—dan Hj. Sa’diah.
Pada tahun 1972, beliau menikah dengan Hj. Iis Aisyah, putri dari KH. Abbas Mahmud Jarnuzi (Alm.) dan Hj. Khodijah (Alm.). Dari pernikahan tersebut, beliau dikaruniai lima orang anak laki-laki.
Perjalanan Menuntut Ilmu
KH. Sofyan Tsauri Ma’mun menempuh perjalanan menuntut ilmu selama kurang lebih 17 tahun di berbagai pondok pesantren, baik di wilayah Tasikmalaya, Garut, maupun luar daerah seperti Madura. Di antara pondok pesantren yang pernah beliau singgahi adalah:
-
Pondok Pesantren Sirnasari, Salopa, Tasikmalaya
-
Pondok Pesantren Riyadlul Alfiyah, Sadang, Garut
-
Pondok Pesantren Kudang, Limbangan, Garut
-
Pondok Pesantren Jamanis Bunut, Tasikmalaya
-
Pondok Pesantren Ciawi, Cideres, Tasikmalaya
-
Pondok Pesantren Bangkalan, Madura
-
Pondok Pesantren Pasir Bokor, Mangkubumi, Tasikmalaya
Selain pondok-pondok tersebut, beliau juga sempat berguru kepada beberapa ulama lainnya yang tersebar di berbagai daerah. Riwayat pendidikan beliau ini masih terus dihimpun dari para santri senior, keluarga, dan sumber-sumber terpercaya, untuk menjaga keakuratan sejarah perjuangan beliau dalam mencari ilmu.
Perjalanan Mengajar & Mendirikan Pesantren
Sejak muda, bahkan sebelum menikah, KH. Sofyan Tsauri Ma’mun telah aktif mengajar para santri di Pondok Pesantren Al-Ma’muniyyah, Sumur Caringin—pesantren yang didirikan oleh ayahandanya, KH. Ma’mun. Ketika sang ayah wafat, beliau melanjutkan peran sebagai guru dan pembimbing utama di pesantren tersebut. Meskipun usianya masih muda, beliau telah dipercaya sepenuhnya oleh para santri karena ketulusan dan keluasan ilmunya.
Setelah menikah, beliau dan istri belum memiliki rumah sendiri. Mereka menetap di bagian kobong pojok pesantren, hidup dalam kesederhanaan namun tetap penuh pengabdian. Di tempat itulah beliau membina kehidupan rumah tangga dan mengasuh para santri hingga dikaruniai tiga orang anak.
Pada tahun 1982, KH. Sofyan memutuskan untuk pindah dan menetap di Padayungan. Di sana, mertuanya—KH. Abbas Mahmud Jarnuzi (Alm.)—mendirikan Pondok Pesantren Al-Munawwar Jarnauziyyah, dan KH. Sofyan diamanahi sebagai pengasuh utamanya.
Perpindahan beliau meninggalkan duka yang mendalam bagi para santri di Sumur Caringin. Banyak yang merasa sangat kehilangan, bahkan ada yang berkata bahwa kepergian KH. Sofyan dan istrinya “terasa seperti ditinggal wafat seorang guru.” Ungkapan itu mencerminkan betapa besar kecintaan dan kepercayaan mereka kepada beliau.
Sebagian santri memilih ikut pindah ke Padayungan demi tetap bisa belajar langsung dari beliau. Di awal perjuangan, KH. Sofyan bersama keluarganya tinggal di rumah yang masih setengah jadi, dengan lantai tanah yang hanya dialasi tikar mendong. Rumah tersebut memiliki tiga kamar kecil—satu digunakan untuk beliau bersama keluarganya, satu lagi diperuntukkan bagi santri putra, dan satu lagi untuk santri putri. Meski kondisi sangat sederhana, para santri tetap bertahan, tinggal, dan belajar bersama beliau. Mereka hidup dalam kebersamaan dan semangat pengabdian yang tinggi, dipenuhi keikhlasan dan rasa cinta kepada ilmu serta guru.
Dengan dukungan dan kebersamaan bersama KH. Abbas Mahmud Jarnuzi, beliau secara perlahan membangun masjid, madrasah, kobong, dan mushola. Pesantren Al-Munawwar Jarnauziyyah pun terus berkembang dan menjadi tempat pendidikan Islam yang penuh keberkahan dan semangat perjuangan.
Kepribadian & Keteladanan
KH. Sofyan Tsauri dikenal sebagai sosok yang tawadhu, sabar, dan ikhlas. Meski santun dalam bertutur, beliau sangat tegas terhadap kemungkaran dan hal-hal yang bertentangan dengan syariat. Keteguhan prinsip dan komitmen beliau dalam membimbing umat menjadikannya panutan di kalangan santri, alumni, masyarakat umum, bahkan di lingkungan keluarganya sendiri.
Beliau menjadi contoh teladan dalam kesederhanaan, tanggung jawab, dan keteguhan dalam memperjuangkan agama.
Salah satu kisah keteladanan yang membekas adalah ketika salah satu anak beliau ingin jajan, sedangkan di depan rumah saat itu ada empat pedagang yang berjualan. Sang anak memilih membeli dari salah satu pedagang, dan meninggalkan tiga lainnya. Melihat hal tersebut, KH. Sofyan segera menyuruh seorang santri untuk membeli jajanan dari tiga pedagang lainnya, agar tidak ada yang merasa tersisihkan dan semua mendapat rezeki yang adil. Sikap ini menunjukkan kepekaan sosial dan kasih sayang beliau, tidak hanya kepada keluarga dan santri, tetapi juga kepada masyarakat kecil di sekitarnya.
Amanat: Jaga Predikat Kasantrian
Salah satu pesan terakhir dan paling sering diulang oleh KH. Sofyan Tsauri Ma’mun (Alm.) kepada para santri, anak-anak, serta keluarganya adalah:
“Jaga predikat kasantrian.”
Amanat ini singkat namun dalam maknanya. Bagi beliau, santri bukan hanya status, melainkan identitas yang harus dijaga dengan sungguh-sungguh—baik dalam ibadah, adab, kejujuran, kesederhanaan, maupun dalam semangat untuk terus belajar dan mengabdi.
Beliau sering mengingatkan bahwa:
“Santri mah kudu ikhlas dina ngalakukeun naon wae, ulah ngarempetkeun haté, sabab barokah bakal jauh lamun haté geus kotor.”
Dalam berbagai kesempatan, beliau tidak henti-hentinya mengingatkan bahwa predikat kasantrian itu tidak otomatis dimiliki, tetapi harus terus dijaga, diperjuangkan, dan diwariskan.
Amanat kepada Keluarga: Kahade, Budak Téh Pasantrenkeun!
Di samping mendidik para santri dengan penuh keteladanan, KH. Sofyan Tsauri Ma’mun (Alm.) juga sangat memperhatikan pendidikan anak-anak dan keturunannya. Amanat beliau kepada keluarga bukan sekadar pesan lisan, tetapi berakar dari pemahaman mendalam beliau terhadap berbagai kitab-kitab klasik yang selalu beliau kaji dan pelajari.
Dalam kitab-kitab tersebut, beliau menemukan pentingnya pendidikan agama yang kuat sebagai pondasi pembentukan karakter dan akhlak mulia. Dari sinilah muncul tekad dan komitmen beliau yang kuat agar anak-anak dan cucu-cucunya dididik di lingkungan pesantren, sebagai tempat terbaik untuk membentuk iman dan akhlak.
Salah satu amanat keluarga yang selalu diingat dan menjadi pegangan adalah:
“Kahade, budak téh pasantrenkeun!”
(Ingat, anak-anak itu harus disekolahkan di pesantren!)
Bagi beliau, pesantren bukan hanya tempat menuntut ilmu agama, tetapi juga benteng akhlak dan kawah candradimuka pembentukan karakter. Beliau percaya bahwa di pesantrenlah seorang anak akan belajar hidup sederhana, taat, hormat kepada guru, dan siap menghadapi kehidupan dengan nilai-nilai Islam yang kuat.
Amanat ini bukan sekadar ucapan, tapi menjadi komitmen hidup yang dijalankan oleh anak-anak beliau hingga kini. Bahkan cucu-cucu beliau pun diarahkan untuk mengenal dan mencintai lingkungan pesantren sejak dini.
Amanat ini menjadi pengingat abadi bahwa generasi yang kuat akidah dan adabnya hanya bisa lahir dari pendidikan yang berlandaskan iman dan ilmu. Dan bagi KH. Sofyan, tempat terbaik untuk itu adalah pesantren.
Wafat dan Peninggalan
KH. Sofyan Tsauri Ma’mun wafat pada bulan Maret 2005, tepatnya di hari Rabu kedua bulan Safar 1426 Hijriyah. Hingga kini, jasa dan keteladanan beliau masih dikenang oleh para santri, alumni, serta masyarakat Padayungan dan sekitarnya. Makam beliau pun sering diziarahi sebagai bentuk cinta dan penghormatan.
Tradisi haul beliau rutin dilaksanakan setiap tahun, tepat pada hari Rabu kedua bulan Safar. Tradisi ini menjadi momentum untuk mengenang perjuangan beliau dalam menegakkan dakwah Islam dan membina generasi penerus yang berakhlak.
Penutup
KH. Sofyan Tsauri Ma’mun (Alm.) bukan hanya seorang guru, tetapi juga pembimbing jiwa dan teladan hidup. Perjuangan beliau dalam mencari ilmu, membina santri, serta membangun pesantren dari nol menunjukkan bahwa keberkahan hidup terletak pada pengabdian tulus tanpa pamrih. Semoga semangat dan keteladanan beliau terus menginspirasi kita semua untuk mencintai ilmu, menjaga akhlak, dan memperjuangkan Islam dengan ikhlas dan rendah hati.
Semoga setiap huruf dalam biografi ini menjadi amal jariyah untuk beliau dan menjadi pengingat bagi kami yang ditinggalkan.
Disusun oleh:
Admin °Rz°
Dengan cinta, hormat, dan rindu untuk Guru tercinta.
---
Ikuti Media Sosial
PONDOK PESANTREN AL-MUNAWWAR JARNAUZIYYAH :
🟥 YouTube | 📸 Instagram | 🎵 TikTok | 📘 Facebook